Senin, 12 Desember 2011

Menjalani Hidup Lajang

Hidup lajang
Gaya hidup lajang saat ini tengah menjadi tren. Menurut sensus terakhir, terdapat 14.2 juta orang lajang (berusia 16-64 tahun) yang saat ini hidup di Inggris. Ketika ditanya ‘apa yang membuat hidup mereka lebih baik?, sepertiga orang tersebut menjawab ‘banyaknya uang’, dan bukan ‘teman hidup’. Mereka melihat hidup lajang sebagai kesempatan untuk melakukan hobi, kesempatan untuk memerhatikan diri sendiri, kesempatan untuk bersikap spontan, serta memiliki lebih banyak teman dekat. Lalu, untuk alasan-alasan di atas, mengapa juga mereka harus menikah?
Segmentasi orang-orang lajang

Para ahli pemasaran telah membuat pembagian buat orang-orang lajang yang dibedakan menjadi empat kelompok. Kelompok social butterflies mengambil porsi 30% dari jumlah lajang dewasa. Kebiasaan mereka bisa dicerminkan dari ungkapan-ungkapan di bawah ini, ‘Saya ingin membeli tren fesyen terbaru’. Mereka gemar men-download musik, memainkan games di pub, juga memainkan alat musik.
Kelompok achiever beavers sebanyak 16%. Kelakuan mereka bisa tercermin dari kalimat ‘saya membeli barang walaupun tidak terlalu butuh’. Mereka suka clubbing dan berdansa, menonton konser musik pop dan olahraga di rumah. Kelompok Pippa fans, yang 71%-nya didominasi oleh kaum wanita, sebanyak 19% dari jumlah lajang dewasa. Mereka juga suka clubbing dan berdansa, pergi ke festival-festival dan berlatih yoga.
Kelompok silvertons yang jumlahnya 35% dari jumlah lajang dewasa. Mereka suka ke galeri, clubbing dan dansa, serta kencan lewat internet.



Fakta



Menjalani hidup lajang
                                            

Lajang sungguhan

Nicola adalah seorang aktris. Dia lajang dan memiliki standar. ‘Kami para wanita saat ini menjadi semakin pemilih, dan semakin sulit rasanya menemukan seseorang yang bisa memenuhi standar saya.'
Phillip adalah seorang pekerja informasi. Dia menikmati kesendiriannya karena dengan begitu ia bisa memiliki waktu untuk diri sendiri dan bisa melakukan hal-hal yang ia sukai.

Orangtua lajang

 Hidup lajang bukan berarti kita kehilangan hal-hal yang sifatnya keibuan. Sebuah kelompok, yang menamakan dirinya Single Mothers by Choice, menjelaskan bahwa angka ibu yang terdaftar tanpa disertai nama ayah (untuk pembuatan akta lahir) saat ini jumlahnya bertambah dua kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir ini. Donor Conception Network berucap, ‘setengah dari permohonan yang datang pada kami dibuat oleh kaum lajang, kelas menengah 33-40 tahun yang bekerja dan mandiri secara finansial. Mereka sebenarnya ingin punya pasangan, akan tetap belum bertemu dengan orang yang tepat, sementara waktu semakin mendesak. ‘Sayangnya, tidak mudah bagi kaum pria untuk menjadi orang tua tunggal!
Menjalani hidup lajang saat ini menjadi tren sosial terbesar di Inggrs, dan sepertinya akan berlanjut di tahun-tahun mendatang.

Tidak ada komentar: